PERJALANAN NEGERI DALAM BERDEMOKRASI

Perburuan kursi kepemimpinan bagai kebututuhan hidup primer yang harus dicapai, daya pikatnya sangat tinggi, entah apa dan mengapa yang melatar melakangi kursi kepemimpinan memiliki daya magnitik tinggi. Padahal jika dikomparasikan antara gaji yang akan diterima dan biaya pencallonannya sangat tidak balance. Sehingga semangat untuk mencalonkan diri dimungkinkan karena adanya pundi pundi tak terduga (ceperan) bahkan pundi pundi tersebut yang melebihi dari gaji pokok.

Kami berasumsi pergulatan politik kepemimpinan di negri ini berorientasi pada kepentingan kunsumtif, bukan untuk kepentingan dan kesejahteraan umum semata. Dengan demikian para calon pemimpin yang masuk dalam bursa pencàlonan pileg, pilkada, pilgub dan pilpres telah memberikan pengajaran dan  wawasan yang sempit dalam hidup berdemokrasi yang pancasilais, sebagai konsekwensinya masyarakat akan memilih-nya jika ada kesepakatan dan keuntungan materil yang didapat sehingga kampanye dan janji janji politik adalah alat transaksional untuk mendapat dukungan warga (mony politic) dll.

Sedemikian parahnya bangsa kita ini. 10 tahun yang lalu banyak kalangan memandang pendidikan memiliki peran sentral dalam merubah watak dan karakter bangsa yang buram ini, sekolah banyak digratiskan oleh pemerintah untuk mendorong laju perkembangan pendidikan yang kompetitif dengan negara maju, anggaran untuk pendidikan oleh pemerintah ditingkatkan, bahkan kurikulumnya juga direfisi, guru mendapat dana insentif, dana bos, bsm, dan lain lain.  upaya ini dilakukan untuk mengurangi beban biaya pendidikan warga dan mendorong masyarakat lebih semangat pada dunia pendidikan sehingga kita memiliki etika hidup dalam berbangsa & berpolitik serta etika berdemokrasi.

Menurut kami untuk mengatasi dekadensi moral bangsa yang amat miris perlu untuk mengasah kecerdasan spritual (hati) karena spritualitas lebih peka dan tajam untuk mendorong terhadap prilaku prilaku positif. Sedangkan pendidikan kecerdasan emosional (logika) mampu menganalisa antara yang baik & buruk, pahit & manis, sopan & jahat. Akan tetapi dorongan kuat untuk merealisasikan pilihan pilihan yang baik tersebut adalah kekuatan  kecerdadan spritual. Kita pasti kenal….Abu jahal, abu lahab, mereka adalah orang2 yang cerdas emosionalnya dikalangan orang kafir kuraisy, dengan kecerdasannya ia memiliki skil perang, berkuda, bermain pedang dll, akan tetapi kecerdasan spritual mereka lemah sehingga ilmu dan pengalaman yang dimilikinya mendorong terhadap hal hal negatif, ia pembohong, munafiq dan kejam. Marilah dipilgub jatim 2018 ini, kita jadikan pintu gerbang menuju amal shaleh berdedikasi pada masyarakat umum demi kemajuan negara tercinta.

Penulis: PPK Pragaan

Editor : Ksm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *