KPU SUMENEP IKUTI WEBINAR DESA PEDULI PEMILU DAN PEMILIHAN

Insert : tangkapan layar Webinar Desa Peduli Pemilu dan Pemilihan

SUMENEP, kpud-sumenepkab.go.id. Siang ini jumat (8/10) Komisi Pemilihan Umum kembali mengikuti Webinar yang diselenggarakan oleh KPU RI dengan mengambil tema Desa Peduli Pemilu dan Pemilihan. diawali dengan sambutan oleh ketua KPU RI Ilham Saputra. dalam sambutannya Ilaham mengajak masyarakat berparsipasi aktif sebagai penyelenggara maupun peserta pemilihan. Kali ini fokusnya berita hoaxs, dengan diajaknya wartawan, bisa menyampaikan berita sesuai dengan perspektif media. “Teman2 dibawah, apabila ada hoaks, mohon segera di konfirmasi dan diantisipasi” harap Ilham. Dan kader dibawah juga mampu mengantisipasi. karena jika tidak segera diantisipasi resiko nya adalah penurunan tingkat kepercayaan terhadap penyelenggara pemilu. dan pada akhirnya dengan kegiatan kali ini diharapkan masyarakat pedesaan memiliki pemahaman yang komprehensif. Guna meningkatkan partisiapasi masyarakat dan kualitas demokrasi pemilihan mendatang.

Pemateri pertama adalah Abdul Gafar Karim dari UGM. ” Seperti  diketahui bahwa hoaks muncul hampir setiap hari dan menyebar melalui banyak media. tujuannya hampir sama yaitu untuk memprofakasi masyarakat dan berujung mempengaruhi pemilih, terutama dalam kontestasi pemilihan”  terang Abdul Gafar. ada beberapa hal yang disampaikan oleh Gafar, diantaranya terkain pengertian dis informasi, mis informasi, dan mal informasi. Serangan utama penyebaran adalah di media sosial dan media online yang abal-abal. Dan pelaku atau korban adalah orang yang berusia diatas 40 tahun. ” Artinya orang tua lebih rentan terhadap berita hoaks , berbeda dengan anak muda ”  lanjut Gafar.

Cara mengantisipasi hoaks menurut Gafar salah satunya adalah harus hati2 kepada media sosial, jangan dianggap sebagai sumber pada suatu berita. hoaks sangat jarang di media yang reviewtable. Bisa saja terjadi karena mungkin tidak kroscek. selain itu juga harus melakukan deteksi dini terhadap informasi yang beredar. “point pentingnya adalah berita hoaks yang ada harus kita hentikan di kita”. tutup Gafar.

Pemateri kedua mengambil tema Pengaturan berita hoaxs dalam Pemilu dan pemilihan yang disajikan oleh Viola Reninda yang merupakan peneliti NGO kode inisiatif. disampaikan bahwa penggunaan medsos menjadi pedang bermata dua, disatu sisi sebagai sarana mencari informasi, di satu sisi digunakan unutk menyebarkan berita yg bisa menyebabkan perpecahan. ” berdasarkan laporan Mafindo  ada peningkatan berita hoaks dalam kurun waktu pemilu 2018 s/d 2019 lebih dari 50 %, dengan media diantaranya : fb, WA, twitter, baik berbentuk narasi/ foto maupun video” terang Viola.

Dan tentunya efek hoaks terhadap Pemilu adalah  bisa merusak kontestasi Pemilu. Membuang waktu dengan menyanggah terkait berita hoaks, melegitimasi perolehan suara calon, mendegradasi legitimasi publik terhadap Pemilu, memecah kerukunan dan persatuan bangsa. disampaikan juga tentang tantangan yang harus dihadapi oleh semua pihak dalam meminimalir masalah hoaxs ini. “Peran Partai Politik dalam membangun demokrasi untuk menangkal dan mereduksi juga sangat diharapkan, jadi tidak hanya semata menjadi tugas penyelenggara ” tutup Viola.

Materi ketiga dengan mengambil tema ” Peran media dalam mencegah berita hoaks pada pemilu dalam pemilihan” disampaikan oleh Sasmito dari AJI. Yang paling mendasar menurut Sasmito adalah perbedaan info dan berita . apabila berita itu tidak boleh bohong, karena berita dihasilkan dari karya jurnalistik, dengan analisa yang mendalam. yang disebut kebohongan adalah informasi, bukan berita.  ”yang lebih tepat adalah hoaks adalah informasi yang salah”. jelas Sasmito. Berbeda dengan informasi, saat ini semua orang bisa menjadi penyebar informasi, tapi belum tentu setiap orang bisa menyebarkan berita. Yg disampaikan jurnalis adalah sebuah fakta. nantinya Publik bisa melaporkan terkait berita bohong terhadap konten bermasalah. beberapa tantangan yg dihadapi media melawan hoaks diantaranya Sulitnya media melakukan diseminasi secara cepat dan luas dan  Hoaxs yang beredar  sangat marak. Yang perlu diwaspadai kedapan adalah di frake / hoaks video rekayasa/ materi digital yang dibuat oleh kecerdasan dengan media yang sangat canggih yang direkayasa. sehingga suara dan gambar seperti aslinya. “ada beberapa rekomendasi terkait penyebaran berita hoaks, diantaranya ,Perlu adanya literasi media, public perlu membedakan pers dan media sosial,  Perlu kolaborasi cek fakta, Publik kembali ke media agar mendapatkan informasi yang benar  dan valid dan terakhir jaminan akses internet” tutup Sasmito.

Materi terakhir disampaikan oleh Kompol Irvan Reza dari Bareskrim POLRI dengan mengambil tema  Penegakan hukum dan sanksi thd pelaku berita hoaks . Irfan memberikan poin penekanan hoaxs dalam dunia digital adalah “ semburan dusta teknik propaganda yang dilakukan secara cepat, berlulang ulang tanpa memberikan waktu untuk mencari kebenarannya” terang Irfan. Berkaitan dengan penegakan hukum  tidak berdiri sendiri. Akan tetapi berkaitan antara satu poin dengan poin yang lain. Terkait penyebaran berita bohong, dilakukan pemeriksaan, penelusuran secara mendalam sehingga penyebarnya saja yang harus di amankan. (Hr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *