Ada Apa Dengan Cinta?

Tanggal : 22 Jun 2016 14:45:58

Foto Ustadz

Jakarta, kpu.go.id – Cinta secara umum diartikan sebagai dorongan yang dimiliki oleh makhluk untuk berbuat. Perbuatan itu dapat berupa pengorbanan, empati, perhatian, kasih sayang, tolong menolong, taat, dan patuh.
 
Dalam peringatan Nuzulul Quran Tahun 2016/1437 H, Ustad Wijayanto yang diundang oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI mengatakan cinta merupakan suatu dorongan yang bisa membawa manusia kearah baik atau buruk.
 
“Ada apa dengan cinta? Kalau diartikan secara luas, cinta itu pangkal dari seluruh kesalahan di dunia. Korupsi terjadi karena cinta harta, jadi cinta (kepada harta) itu menjadi sumber kesalahan.Tetapi cinta itu bisa menjadi sumber bagaimana orang itu meningkat derajatnya di surga,” kata Ustad Wijayanto membuka tausiah keagamaannya di Ruang Rapat Utama gedung KPU RI, Jakarta.

 
Karena baik atau buruk amalan manusia dilatarbelakangi oleh dua niatan tersebut, Ustad Wijayanto mengatakan, sebelum berbuat, seseorang perlu bertanya apakah perbuatan yang akan dilakukan itu berdasarkan cinta kepada syariat atau sebatas pemuas keinginan.
 
“Istri saya pernah saya tanya setujukah poligami? dia bilang kalau menikah lagi baik untuk dunia dan akhiratmu, bisa dekat dengan Allah maka lakukan, karena saya ingin punya suami yang bisa membawa anak dan istrinya ke surga, tetapi kalau sebaliknya berarti resiko ditanggung sendiri,” ujar dia.
 
“Tapi sayangnya laki-laki nikah lagi carinya yang lebih muda, lebih bening, sembunyi-sembunyi nikah siri tanpa diketahui. Kalau begitu dorongannya syariat atau syahwat? Karena hal itu saya takut untuk nikah lagi,” lanjutnya.
 
Karena mind set yang keliru, Ustad Wijayanto menjelaskan bahwa saat ini manusia lebih mencintai dunia daripada cintanya pada Allah dan rasulnya, sehingga ibadah yang dilakukan oleh orang-orang tersebut bukan karena cintanya kepada Allah.
 
“Salah satu manajemen cinta yang keliru itu di mana manusia mencintai dunia, dan takut dengan kematian. Dunia kadang lebih berharga dari ibadahnya. Karena dibelakangnya ada calon mertua, sholatnya dikhusuk-khusukkan. Biar tahu kalau sudah haji, kemana-mana pakai peci putih. Jadi ibadahnya untuk manusia, bukan untuk Allah. Ini bisa jadi sumbershow off,” paparnya.
 
Bertepatan dengan Bulan Ramadhan, Ustad Wijayanto mengingatkan agar muslim dan muslimah meluruskan niat, dimana berpuasa hanya untuk ibadah. Ia mengatakan bahwa terdapat golongan di mana kewajiban puasanya telah gugur tetapi tidak memiliki nilai.
 
“Ibadah puasa banyak yang kewajibanya gugur tapi tanpa nilai. siapa? yaitu satu, mereka yang puasanya dilakukan tanpa cinta akan ibadah. Mau buka nunggunya di Tanah Abang, Thamrin City padahal makna puasa itu menahan hawa nafsu, ini malah lebih boros. Dua, yang cintanya pada orang tua luntur. Lebaran nggak pulang, hanya sms. Padahal anak yang berjabat tangan dengan orang tua dosa-dosanya gugur dari celah-celah jari. Kalau cuma sms dosanya gugur dari mana?,” papar Ustad Wijayanto.
 
Untuk menumbuhkan cinta akan beribadah, Ustad Wijayanto menerangkan bahwa seseorang perlu melakukannya secara sabar dan taat, sebagaimana kesabaran dan ketaatan yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan keluarganya kepada Allah.
 
“Cinta itu ditandai dengan sabar dan taat, sabar dalam musibah dan senantiasa taat, Nabi Ibrahim taat dan sabar, istrinya sabar, anaknya juga sabar. Belum mempunyai anak beliau tetap sabar, tetap berdoa Rabbi Habli Minasholihin setelah 94 tahun baru dikabulkan. Ini contoh keluarga terbaik di dunia,” kata dia. (rap/red. FOTO KPU/dosen/Hupmas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *